muhammad-yusuf-el-badri

Melihat Geliat Thawalib Padang Panjang

Berita Alumni

Selama kurun enam bulan terakhir publik disuguhkan dengan perkembangan Perguruan Thawalib Padang Panjang. Hampir setiap bulan, melalui pemberitaan media, dapat terlihat ada gairah kebangkitan kembali Perguruan Thawalib masa lampau. Masa dimana Thawalib menjadi rujukan pemharuan Islam di Asia Tenggara atau yang sering juga disebut Dunia Melayu-Indonesia.

Muhammad Yusuf el-Badri – Akademisi

Perguruan Thawalib dirujuk sebagai lembaga pendidikan Islam, paling tidak karena dua faktor utama, yakni faktor modernisasi pendidikan Islam dan ketokohan. Keberhasilan Perguruan Thawalib memodernisasi lembaga pendidikan menjadi alasan utama lembaga ini diminati. Ketika umumnya pendidikan agama diajar secara tradisional dalam bentuk halaqah (murid duduk melingkar menghadap guru), perguruan Thawalib menawarkan pendidikan agama modern, -sistem berkelas, dan kurikulum yang terukur.

Keberadaan Thawalib sebagai lembaga pendidikan modern manarik minat pembelajar pada masa awal. Bahkan kemoderenan Thawalib menjadi sebab halaqah-halaqah di Sumatera Barat berubah menjadi madrasah, tak terkecuali ratusan Madrasah Tarbiyah Islamiyah (MTI). Faktor kedua adalah ketokohan. Melalui para penggagas Perguruan Thawalib ini, Syekh Abdul Karim Amrullah, Islam di Dunia Melayu-Indonesia menunjukkan eksistensinya, selain perkembangan dan kemajuan.

Gagasan yang ditawarkan untuk kemajuan Islam dianggap relevan oleh banyak orang. Terlebih Syekh Abdul Karim juga ikut terlibat memperjuangkan nasib umat Islam. Tokoh lain yang menjadi penarik minat para pembelajar Islam adalah kehadiran Syekh Abdul Hamid Hakim (1893-1959), ulama rujukan dalam bidang Ushul Fikih (teori hukum Islam). Buku Mabadi’ Awwaliyah, As-Sulam dan al-Bayan, sebagai magnum opus Syekh Abdul Hamid Hakim ini bahkan menjadi buku wajib sebagian besar pesantren di Indonesia dalam mempelajari ushul fikih.

Tokoh yang tak kalah menjadi magnet Thawalib adalah Buya Hamka (1908-1981), ketua Majelis Ulama Pertama di Indonesia, ulama populer yang menulis tafsir al-Azhar, puluhan buku keislaman hingga karya sastra. Tak pelak lagi kepopuleran Buya Hamka sebagai ulama membuat para orang tua pada tahun 1970-an punya keinginan agar anaknya menjadi ulama hebat seperti Hamka kelak, sebagaimana juga diungkap A Fuadi dalam novelnya, Negeri Lima Menara.

Melalui Hamka pula para pengkaji Islam dan pembaharuannya di Indonesia tahu peran besar perguruan Thawalib. Setelah Buya Hamka, tokoh terakhir yang diidolakan adalah Buya Mawardi Muhammad (1913-1994), ulama rujukan dalam ilmu hadis. Sepanjang hidupnya Buya Mawardi banyak menulis buku keislaman, yang sebagian besar ditulis dalam bahasa Arab.

Karyanya yang populer antara lain adalah Ushul Nahwiyah, Ahadits Mukhtarah (3 Juz), Ilmu Mustalah hadits dan Ahadits Mukhtarah wa Syarhuha yang masih dipelajari di berbagai pesantren hingga sekarang.

Perguruan Thawalib Bangkit Kembali
Setelah lama tak terdengar, kini Perguruan Thawalib menunjukkan perkembangan yang pesat. Hampir setiap bulan publik dapat informasi bagaimana keadaan Thawalib saat ini. Dan yang terbaru adalah Perguruan Thawalib berperan aktif menuntut kebijakan pemerintah untuk pendidikan pesantren.
Ketika Pandemi Covid-19 terjadi, semua proses belajar mengajar dilakukan secara daring (dalam jaringan/on line).

Proses belajar daring ini sama sekali tidak efektif bila diterapkan pada pesantren, karena belajar di pesantren bukan sekadar transfer ilmu tapi juga pemahaman dan etika. Pada saat yang sama pesantren yang dikelola secara swadaya juga tidak mendapat perhatian dari pemerintah setempat. Ribuan guru dan karyawan pesantren tidak menerima pemasukan karena proses belajar terhenti.

Meski begitu, hampir semua pesantren di Sumatera Barat tiarap belaka dan tidak bersuara sama sekali. Hanya Perguruan Thawalib yang gigih bersuara menuntut perhatian itu. Kasus ini barangkali mengingatkan publik pada Syekh Abdul Karim Amrullah ketika menolak ordonansi guru 1928. Sebelumnya juga diberitakan bahwa Perguruan Thawalib merevisi kurikulum pesantren, diaudit dilakukan oleh akuntan publik dan melaporkan keuangan yayasan pada umat.

Sebagai pesantren dengan berbasis kitab kuning hal yang dilakukan oleh Perguruan Thawalib saat ini adalah kemajuan yang sangat luar biasa. Kali ini Perguruan Thawalib menunjukkan kelas sebagai pesantren modern. Semoga Thawalib menemui kejayaannya kembali. (*)

*Penulis adalah Mahasiswa Program Doktor Islamic Studies UIN Jakarta dan Peneliti Islam dan Kebudayaan di Simak Institute

Juga dimuat di harianhaluan.com

Yuk Bagikan